Mari Menangis




Tukang sampah (binmen), tak punya rumah.
KPK gak punya kantor, dan banyak lembaga negara yang juga tak punya kantor.
Atlet tak punya tempat latihan. Pun demikian, Hambalang justru dikorupsi.
Siswa SD tak punya sekolahan, harus jalan kaki berkilometer lewat jembatan Indiana Jones.
Anak-anak tak punya lapangan bermain, semuanya habis untuk tempat parkiran, dan... mall.
Ibu-ibu masuk penjara.
Anak-anak muda dipanggil kapeka.
Para tetua menyembah dogma-dogma usang.

Banyak yang bermimpi, mengigau dan menceracau. Katanya: "Indonesia ini negara besar yang kaya-raya".
Ada juga yang pasrah, menyerahkan batang lehernya ke Amerika.
Banyak juga yang hening, diam-diam menyelamatkan dirinya sendiri-sendiri.

70% anggaran negara habis buat bayar gaji.
60% anggaran pendidikan habis buat bayar gaji.
Negara menjadi negeri para buruh. Sebagian dipakai di dalam negeri, sisanya diekspor dengan merek TKI/TKW. Laris manis.
Yang bukan buruh... bukan manusia, terlunta-lunta mengemis BLT dan Jamkesmas.

Kemudian ada yang membuat (ngakunya) gebrakan.
Anggota dewan di-buruh-kan.
Legislatif negara menjadi buruh-buruh partai.
Disangu 10 milyar.

Presiden bernyanyi.. menyanyikan lagu prihatin... dengan isak tangis dan air mata di pipinya. Pemimpin tak berpedang melainkan artis bergitar, juara 1 kontes "Presiden Idol" , mengalahkan Kak Rhoma.

Indonesia adalah tanah jajahan, negeri dimana para penjajah diterima dan disambut bak pahlawan.
"Modal asing... modal asing... modal asing... kapankah engkau datang?"
Begitu bunyi dzikirnya.

Lengkaplah sudah.


0 comments: