Politik Konsinyasi



Mandegnya proses pendidikan politik di Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah kesibukan politik menjelang hajatan besar Pemilu 2014. Pasca reformasi 1998 ratusan partai politik telah dilahirkan namun banyaknya jumlah partai politik tidak serta-merta berbanding lurus dengan banyaknya tokoh publik yang dilahirkannya.
Partai politik, sebagai instrumen utama demokrasi, tidak mampu menjadi alat kaderisasi yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Mesin partai yang diasumsikan mampu memproduksi tokoh pada kenyataannya berbalik sebagai konsumen tokoh.
Perilaku konsumen ini kemudian menjadi sebuah fenomena baru yang disebut sebagai “anak kost” di dalam tubuh partai politik. “Anak kost” adalah tokoh publik yang direkrut secara eksklusif oleh parpol dengan perlakuan istimewa. Menduduki posisi-posisi penting di partai dan dibariskan di etalase vote getter untuk menarik dukungan publik.
Perilaku seperti ini ibarat sebuah praktik konsinyasi.
Partai politik kemudian menjadi tidak lebih sebagai penyedia ruang kosong yang tidak mmiliki modal sosial untuk mengisi etalasenya. Pemimpin-peminpin tidak lagi dilahirkan dari rahim partai melainkan dari hanya dipinjamkan. Bahkan cukup banyak terjadi transfer antar etalase ketika seorang tokoh publik yang tidak “laku” di sebuah etalase kemudian pindah ke etalase lain.
Politik Konsinyasi seperti ini perlu benar-benar diwaspadai karena pada akhirnya hanya menjadi lahan yang sangat subur bagi para petualang dan pemburu rente. Popularitas dan elektabilitas menjadi mata uang baru yang mengalienasikan politik dari masyarakat.
Organisasi


Kegagalan kaderisasi di tubuh partai politik adalah sebuah akibat langsung dari gagalnya proses-proses berorganisasi dalam masyarakat.
Liberalisme dan individualisme telah menjadikan setiap orang sebagai partikel bebas yang bergerak di ruang tanpa batas. Sekat-sekat komunal, yang menjadi pembatas ruang-ruang sosial, perlahan semakin hilang. Nilai-nilai komunal, yang menjadi pusat gravitasi, perlahan meredup dan kehilangan daya cengkeramnya.
Hal-hal demikian menyebabkan organisasi-organisasi tradisional kehilangan kekuatannya sebagai simpul-simpul sosial. Masyarakat semakin tersebar dalam pola yang sulit dibayangkan dapat terjadi di masa-masa sebelumnya.
Ketika organisasi tradisional kehilangan daya ikatnya, organisasi-organisasi baru dengan aturan main yang berbeda naik ke permukaan. Media sosial yang nir-ruang.
Masyarakat menjadi kehilangan orientasi terhadap ruang komunal, kehilangan kemampuan untuk membedakan antara tetangga dan orang di pulau seberang. Organisasi-organisasi tradisional yang bersifat komunal pecah berantakan.


0 comments: